Ramadhan: Bukti Cinta Hamba Kepada Penciptanya

Posted on

Katakanlah:

“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku” (QS. Ali-imran: 31)

Lelaki dengan kacamata, wajahnya tampan. Badannya kekar. Namun dia bisa terbang dan menolong orang. Sesekali dia bertarung. Dari matanya bisa keluar sinar yang mampu menghancurkan apapun. Nah, hebatnya lagi dia tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai lelaki super. Tapi orang mengenalnya sebagai superman. Yap. Tidak salah.

Karena mencintai sosok Superman, saya ketika kecil selalu mencoba untuk mirip dengannya. Dari rambut sampai pakaian. Bahkan, saya pernah nekat terjun dari tembok rumah tetangga agar bisa menjadi sosok superman. Sekarang, saya sadar bahwa dia hanya fiktif. Dan saya tidak sudi lagi.

Namun, tahukah bahwa di dalam jiwa saya, sudah tertanam sosok ini. Makanya saya selalu klik jika menonton filmnya. Cinta memang butuh bukti. Bukan Cuma cinta lelaki dan wanita, namun dalam soal idola. Maka, saya sekarang berhati-hati dengan cinta dan mengidolakan. Sebab nabi menerangkan begini

Saya berkata lagi, “Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan tentang masalah hawa nafsu (cinta)?” Dia menjawab, “Iya pernah. Suatu ketika kami bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Di kala kami berada di sisi beliau, tiba-tiba ada seorang Arab Badui (pegunungan) memanggil beliau dengan suara keras sekali. Ia berkata, “Hai Muhammad!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab dengan suara yang sama kerasnya, “Mari ke mari.” Saya pun berkata kepada Arab Badui tersebut, “Celaka engkau ini, perlahankanlah suaramu. Sebab engkau ini benar-benar berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan aku dilarang seperti itu.” Namun Arab Badui itu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memelankan suaraku.” Kemudian ia berkata kepada beliau, “Ada seseorang mencintai suatu golongan, tetapi ia tidak dapat bertemu (menyamai) mereka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.”

Dalam surat Ali Imran ayat 31, Allah menantang hamba-Nya untuk mengikuti Rasulullah, jika mereka memang mencintai Allah. Sedangkan hadis di atas, adalah keterangan dari nabi tentang kebiasaan dan cinta.

Bulan ramadhan, puasa, dan tetek bengeknya adalah bukti cinta. Bukti cinta pada Allah. Jika memang kita mencintai. Sayangnya, kita begitu susah memahami soal kamuflase dan kenyataan. Makanya, kita susah untuk meyakini adanya Allah. Tapi kita dengan mudah percaya dengan tipu daya setan. Karena setan fokus pada materi dan cash. Sedangkan Allah ingin kita menjadi baik. Baik selamanya, di atas kebenaran dan ketaatan pada-Nya.

Manusia terperangkap dalam ego dan kebutuhan. Kita sebenarnya butuh akan Allah, namun ego lebih dominan. Sehingga, kita malu kalau mengatakan cinta pada Allah. Kita malu kalau menjalankan sunnah nabi. Kita lebih suka berdiam di mall ketika ramadhan daripada di masjid.

Kita malu memanjangkan jenggot, sebagai sunnah nabi. Karena kita anggap jenggot identik dengan orang tua. Kita merasa bisa hidup sendiri dan tidak akan binasa, padahal kita haanya sementara.

Saya sendiri, merasa sudah bisa berbuat baik. Sudah bisa menjalankan perintah Allah dan rosul-Nya. Ternyata ketika sedang sendiri, saya sering berbuat dosa. Memikirkan keburukan orang, dengki dan semisalnya.

Seharusnya datangnya bulan puasa, adalah jeda yang bisa kita manfaatkan untuk:

  • Mengubah ibadah
  • Mengubah kondisi hati
  • Mengubah akhlak
  • Mengubah kondisi ekonomi
  • Mengubah pola pikir
  • Dan mengubah semuanya

Di dalam bulan suci tersebut ada banyak kemudahan. Kita diberikan kesempatan mustajab untuk berdoa karena sedang puasa. Namun kita tidak mau tahu, ya, karena kita memang tidak mau kenal. Dan lebih suka dengan duit cash daripada tempo.

‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzhalimi.” (HR. Tirmizi)

Kata imam Nawawi dalam Syarh Al-muhadzabnya, “Ditekankan pada  orang yang puasa untuk berdoa sepanjang waktu puasanya (selama ia berpuasa) dengan doa-doa yang sangat penting bagi urusan akhirat dan dunianya, bagi dirinya, bagi orang yang dicintai dan untuk kaum muslimin.”

Cinta butuh bukti, bro. Kalau ngaku cinta sama Allah, maka ikutilah Muhammad Alaihi salatu wassalam. Karena dialah hamba dan utusan-Nya. Dan tidak akan pernah tersesat bagi mereka yang mengikuti nabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *