Di Bulan Ramadhan Manusia Jadi Pengemis Lupa Jalan

Posted on

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidz)

Lelaki itu datang kepada Musa. Mengiba akan kondisi dunia, meski dia pun tahu tentang dunia, namun si lelaki mengeluh. Andaikan dia memiliki sedikit saja harta dunia, tentu ibadahnya tidak akan susah payah. Bukankah Allah tidak mengharamkan kekayaan? Hanya di mana ia memakainya saja. Nah, Musa mendoakan. Lalu, lelaki itu bisa meraih banyak sekali harta. Bahkan kekayaannya disimpan dalam sebuah gudang, yang kuncinya harus dipikul 9 sampai 40 orang. Namun dia sombong, dia terlaknat. Allah tenggelamkan dalam perut bumi. Qorun. Itulah dia.

Tak terbayang berapa kali kita memohon pada Allah agar diberikan kelapangan rezeki. Ya, karena kita memang butuh. Tapi kita gengsi mengatakannya, dan kita benar-benar tidak tahu diri. Karena 3 hari berdoa, kita merasa sudah sangat lama. Padahal Allah mengurus diri kita 50 ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.

Selama 12 bulan, kita disibukkan dengan uang, uang, uang. Namun ketika 1 bulan Allah suruh kita istirahat dari memikirkan uang. Agar bisa fokus ndandani ibadah, kita merasa ogah. Bukan disambut dengan hati ikhlas, namun kita selalu merasa bulan ramadhan adalah siksaan dan belenggu.

Padahal ramadhan datang setiap tahun. Kita merasa puasa membuat diri tidak produktif. Padahal dalam puasa ada banyak keutamaan. Mulai kesehatan, motivasi, dan juga kekayaan. Andai kita mau. Kita hanya ingin diberi dan diberi, tanpa mau memikirkan kapan kita bisa memberi.

Kita memang Bengal. Kita pelit, kita rakus. Kita seperti pengemis lupa jalan pulang. Pantas saja kalau Allah menghukum qorun. Sebab qorun sombong dan tidak mau mengakui pemberian Allah. Kisah Qorun diabadikan Allah dalam alquran.

 Sesungguhnya Karun adalah Termasuk kaum Musa, Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.  Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”.  Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (QS. Al-Qashash: 76 – 81)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *