Kisah Jebakan Kartu Kredit dan Kemuliaan Ramadhan

Posted on

 

“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi)

 Ponsel saya berdering, sedetik kemudian setelah saya angkat seorang lelaki dengan lembut mengatakan kalau saya dapat kartu kredit gratis dari tempat saya menabung. Ambil tidak? Saya berfikir sejenak, karena ini bulan puasa. Bisa jadi ini hadiah dari Allah atas sedekah saya? Saya ambil kartu tersebut. Tidak lama kemudian, saya aktifkan.

Akad kartu kredit

1,5 bulan setelahnya, saya menjerit. Menangis, dan menyesali. Ternyata kartu kredit yang saya terima adalah jebakan. Iya, jebakan kartu kredit saya dapatkan karena saya memang tidak kenal dengan baik dengannya. Karena saya merasa sudah berbuat baik. Banyak amal, karena di bulan ramadhan tersebut, saya banyak infaq dan membantu orang. Akhirnya maker Allah datang. Untuk menutup kartu kredi tersebut, saya butuh 1 tahun. Gila. Sangat menjerat. Dan mematikan. Saya kapok, menyesal.

***

Pernah mengalami nasib seperti saya? Penyebabnya, saya merasa sudah berbuat baik di bulan ramadhan. Sehingga tawaran kartu kredit adalah sebuah hadiah dari Allah. Padahal, jika diteliti lagi saya lebih banyak menghabiskan waktu buat tidur dan bermain, ketika ramadhan. Lalu, saya merasa sudah berbuat baik.

Banyaknya uang, harta yang kita terima bukan karena dekatnya kita kepada Allah. Namun uang adalah ujian buat kita. Rosulullah mengatakan, bahwa dunia ini tidak ada artinya di mata Allah. Namun kita begitu gila dengannya.

Imam Nawawi dalam Al-minhaj mengatakan, pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih tersisa di lautan.” (Al-Minhaj, 17/190)

Saat bulan ramadhan, kita lebih banyak menghitung sedekah, daripada mencari pahala. Kenapa bisa? Karena kita lebih suka dipuji. Makanya, ketika datang jadwal pemberian takjil kita selalu saja mencari paling sedikit.

Di bulan Ramadhan, kebaikan bertebaran. Kita juga banyaaka berbuat baik. Namun kita tidak mengenal kebaikan yang kita lakukan. Sehingga, semuanya bukan berdasarkan hadis nabi apalagi ayat Alquran. Melainkan hawa nafsu dan keinginan untuk dipuji. Dibalas dengan setimpal atau lebih.

Sahabat nabi Uqbah bin Amr menjelaskan sebuah hadis nabi,

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad)

Ibarat kendaraan, bulan Ramadhan seharusnya menjadi rem. Ibarat sebuah perjalanan, bulan ramadhan seharusnya menjad sebuah rest area. Yang dengan adanya rem atau rest area kita bisa selamat.

Bayangkan, Anda melakukan perjalanan sejauh 1000 kilometer. Tapi sama sekali tidak istrahat. Bagaimana perasaan dan badan Anda? Pada musim haji, banyak orang yang tua renta atau bahkan anak kecil yang mati karena kecapekan. Itu karena tidak adanya istirahat.  Pada keseharian, kita sering mendapatkan mobil masuk jurang, tabrakan beruntun dan semisalnya karena rem blong. Bayangkan jika Anda mengendarai kendaraan sejauh 500 meter saja. Namun tanpa rem di kendaraan Anda, kira-kira apa yang terjadi? Anda akan tabrakan dan mati.

Kehidupan dunia ini akan jadi baik atau buruk tergantung kita. Jika kita mencintai dunia berlebihan, kita pun akan capek. Lelah, bosan. Pernah mendengar orang bunuh diri karenaa hutang? Banyak. Pernah mendengar orang bunuh diri karenaa penyakit tak kunjung sembuh? Banyak. Semua itu terjadi karena mereka tidak paham tentang rest area yang Allah berikan.

Kita mengenal ramadhan, tapi kita tidak mengetahui ramadhan itu seperti apa. Mengenalmu wahai ramadhan, namun tidak mengenalmu dengan baik. Kita lebih suka membandingkan puasa dengan makanan lezat. Padahal dalam puasa ada banyak manfaat. Silakan Anda cek secara kesehatan apa ada orang mati karena puasa?

Jebakan kartu kredit yang saya dapatkan, mengingatkan dengan jebakan dunia. Kita begitu mencintai dunia, mencari duit tanpaa henti. Banyak yang mencuri, menipu, menjual diri, memeras. Semuanya dilakukan demi dunia. Demi harta.

Ramadhan adalah rest area yang diberikan Allah. Agar kita bisa istirahat dari memikirkan mencari uang. Agar kita bisa fokus untuk recharge iman. Tetapi, di bulan ramadhan kita lebih suka menganggap puasa sebagai ritual saja. Perhatikan!

Kita lebih banyak tidur di pagi hari sampai siang daripada tadabur. Kita lebih suka jalan-jalan sore menunggu buka puasa daripada membaca alquran. Kita lebih suka memikirkan makanan daripada dosa kita. Kita lebih terbiasa untuk tidak sahur, daripada berdoa di waktu sahur. Padahal di waktu sahur ada waktu mustajab. Yang doa akan dikabulkan.

Sekarang kembali kepada Anda, apakah akan mengakui atau tidak?

Di siang hari, kita lebih suka menghabiskan waktu untuk bekerja daripada mendekatkan diri pada sang maha kuasa. Di siang hari kita lebih suka ngadem daripada membiasakan diri memikirkan akhirat yang jadi tempat abadi kita.

Sebelum ramadhan datang kita mengatakan gembira. Tapi masuk ramadhan kita begitu menderita, karena lapar. Karena lemas, karena berpuasa. Akhirnya, membatalkan puasa tanpa uzur yang diperbolehkan oleh agama.

Hina dinalah kita sebagai hamba Allah. Pernah ke rest area bukan? Sifat rest area, biasanya menyediakan berbagai hal yang kita butuhkan. Mulai dari makanan, toilet, minuman, dan tempat istirahat. Bulan ramadhan banyak sekali keutamaannya. Mulai dari ampunan dosa, mustajab doa, dan banyak lagi.

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al-bazar)

”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu. (HR. Bukhari)

Nawawi rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *