Tips menulis tweetfiction

Posted on

Tweetfiction adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan penulisnya melalui twitter. Lebih jelasnya bisa dibaca pada artikel ..dari hemingway ke tweetfiction.

Berikut contoh tweetfiction :

Human Trafficking

Dijual; Bayi. Belum pernah dijual

Kamar Imajiner

Bingkai foto memenuhi kamarnya. Potret dirinya dengan siapa saja. Dikamarnya ada meja, kursi, lemari & dipan, juga dalam foto berbingkai.

No Action Talk Only

“ Buruk ! “. Ia menghempaskan novel itu, dan menyesal telah membelinya. Namun tiba-tiba ia mengingat novelnya yang tak pernah selesai.

Syukur

Mendadak ia terbangun. “Hujan sialan ! Aduh Tuhan, ributnya.” Saat mukanya mendongak keatap, “Alhamdulillah, aku masih punya rumah,”

Mabuk

Bir-nya serupa air kencing. Kuning & berbusa. Ia terus meminumnya, lalu kencing, minum lagi, kencing lagi, terus menerus di gelas yang sama.

Sumber: 2010 @antoRusdianto

Bila anda penggemar fiksi (penulis maupun pembaca) & juga pengguna twitter (tweeple), mungkin familiar dengan genre ini. Meski terbilang baru didunia fiksi tanah air, tweetfiction lansung menyedot perhatian twitosphere. Bahkan ada tweeter; @fiksimini, yang khusus me-retweet (RT) fiksi 140 karakter dari para followers-nya. Belakangan setelah saya cermati, sebagian besar RT itu rasa-rasanya belum memenuhi syarat cukup disebut  tweetfiction.

Daripada cuma membaca tweetfiction orang, mengapa tak coba menuliskannya sendiri. Mudah saja. Berikut ini tips-tips-nya untuk anda :

  • Tentukan tema cerita

Seseorang menulis bertujuan menyampaikan sebuah tema. Tak terkecuali tweetfiction. Tema menjadi ruh yang menghidupkan tulisan.

Karena jumlah kata yang terbatas, rasanya tak berlebihan bila tweetfiction kadang dianggap sebagai serangkaian kalimat rangkuman atas gagasan (tema) tertentu dalam bentuk cerita. Fiksi yang anda maksudkan sebagai tweetfiction kemungkinan besar cuma tweet biasa tanpa keberadaan tema. Semacam pernyataan atau informasi belaka atas status anda saat itu (what are you doing ?).  Pada empat contoh tweetfiction diawal tulisan, temanya menjadi judul.

Pembaca mencari gagasan, gugahan & pesan moral mendalam yang ingin anda sampaikan dalam tulisan. Itulah tema.

  • Menulis bebas

Tema sudah ada. Saatnya menerjemahkan tema kedalam tulisan. Terlihat susah karena tak ada teknik baku disini. Setiap penulis punya ciri khas & gaya bahasa tersendiri dalam menuturkan cerita. Tergantung tingkat kejeniusan, kreatifitas dan jam terbang menulis masing-masing. Kasusnya hampir sama dengan menulis kalimat/paragraf pertama pada fiksi panjang (cerpen atau novel), Susah-susah gampang. Hanya saja pada tweetfiction, paragraf pertama sekaligus merupakan paragraf tengah dan akhir. Beberapa orang menuliskannya dalam bentuk dialog, sebagian besar lainnya menulis dalam bentuk narasi tindakan, adegan, atau situasi.

Temukan Muse anda sendiri dan ingat selalu nasehat J.J.R Tolkien : “Pekerjaan yang belum dimulai adalah yang butuh waktu paling lama untuk diselesaikan “

  • Pastikan syarat cukup terpenuhi

Cerita fiksi dianggap cukup memenuhi syarat bila ada awal, tengah, akhir dan mengandung elemen cerita utuh; karaktersetting, konflikresolusi.

Awal, tengah, akhir, tidak berarti anda harus membagi cerita kedalam 3 babak secara eksplisit & terpisah satu sama lain. Itu mustahil anda terapkan. Begitu pula bila memaknai kehadiran elemen cerita secara harfiah, akan berakibat tweetfiction anda melampaui ambang maksimal 140 karakter. Kehadiran elemen cerita bisa berarti lansung ataupun tidak lansung. Tanpa mendeskripsikan karakter (nama, sifat, etc), setting (tempat, waktu, etc), asalkan pembaca bisa merasakan kehadirannya dalam imajinasi mereka, dianggap sudah ada.

Supaya lebih mudah dipahami, mari kita bedah tweetfiction @ Syukur :

Mendadak ia terbangun. “Hujan sialan ! Aduh Tuhan, ributnya.” Saat mukanya mendongak keatap, “Alhamdulillah, aku masih punya rumah,”

Awal ; tokoh (orang ketiga tunggal) kesal terhadap bunyi hujan yang turun tengah malam mendadak mengganggu tidurnya.

Tengah : Ditengah kekesalan, tokoh mendongak ke atap rumahnya, dan tiba-tiba merasa dirinya berdosa telah menyesali Tuhan yang menurunkan hujan.

Akhir : Tokoh merenungkan kembali sikapnya terhadap Tuhan. Ia sadar tak sepantasnya menyumpahi hujan Bukankah ia memiliki rumah untuk bernaung. Ia membayangkan bagaimana nasib mereka yang tidak punya rumah disaat turun hujan lebat dimalam hari. Ia menyesali perbuatannya, lalu mengucap syukur pada Tuhan.

Karakter : karakternya terlihat jelas dalam cerita (tokoh Ia). Dianjurkan memakai satu karakter  saja (sudut pandang orang pertama tunggal atau orang ketiga), atau maksimal 2 karakter bila terpaksa.

Settting : Dimana tempat adegan cerita diatas terjadi ? Dikamar tidur dirumah tokoh bersangkutan. Kapan kejadian tersebut berlansung ? Di malam hari saat turun hujan lebat. Tak ada deskripsi tentang tempat & waktu. Namun saya yakin anda mengimajinasikan kahadirannya.

Konflik : konflik eksternal terjadi antara sang tokoh vs alam/cuaca, antara tokoh vs Tuhan, Konflik internal terjadi dalam diri sang tokoh (bersyukur vs tidak bersyukur).

Resolusi : Sang tokoh mengalami perubahan paradigma dalam memandang dirinya, alam serta Tuhan. Dari kesal menjadi bersyukur. Resolusi adalah akhir cerita dimana terjadi perubahan pada karakternya. Cerita jangan dibiarkan mengambang. Boleh meninggalkan pertanyaan, selama disediakan penanda yang jelas kalau cerita tersebut telah selesai. Penanda kepada pembaca bisa berupa kesimpulan (pesan moral) yang ditarik dari cerita tersebut.

  • Show, don’t tell

Disarankan menggunakan kata kerja aktif pada cerita berbentuk adegan atau situasi. Show, don’t tell. Ketimbang memakai kalimat: Kamarnya dipenuhi bingkai foto..  Lebih bagus menggunakan : Bingkai foto memenuhi kamarnya. (cukup mengganti awalan di- menjadi me-). Pembaca seolah ditarik ketengah peristiwa yang sedang terjadi. Menunjukkan peristiwa yang tengah berlansung terkesan lebih hidup daripada memberitahu lansung pembaca.

  • Edit

Anda bisa melihat sisa kuota atau kelebihan kata pada sudut kanan atas kotak tweet. Minus satu (-1) kata saja berakibat tulisan gagal di-tweet. Hindari mendeskripsikan karakter dan atau setting. Hapus semua kata-kata lemah yang tidak berkontribusi menguatkan kalimat. Diksi (pilihan kata) sangat menentukan. Pemakaian kosa kata bermakna ganda (konotatif) sangat membantu. Yang paling gampang tentu saja menghapus semua adverbia (kata keterangan). Contoh:

–          Kucing itu mencakar dengan kuku-kukunya yang tajam (sebelum diedit)

–          Kucing mencakar (setelah diedit),

Kelima tips diatas berakar dari teknik dasar penulisan fiksi di semua genre, dan sepertinya cocok juga diterapkan pada tweetfiction.

Sayang, tak ada jaminan 2 orang (atau lebih) memakai 1 teknik menulis yang sama akan membuahkan hasil serupa. Kegagalan pada penggunaan tips diatas pada akhirnya menjadi tanggung jawab anda sendiri ( maafkan saya :) )

Menulis fiksi bukan ilmu pasti. Setiap hari bermunculan teknik baru. Namun biasanya ilmu lebih cepat diserap lewat latihan instensif. Kuncinya hanya menulis, menulis, dan menulis..

Copyright @2010 by Rusdianto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *